Cara Memilih Bibit Ayam Bekisar Yang Baik

bekisar 2
Cara Memilih Bibit Ayam bekisar yang Baik – 
Ayam Bekisar merupakan hasil persilangan antara ayam hutan jantan dengan ayam kampung betina (Gallus Domestica). Untuk dapat menghasilkan ayam bekisar yang baik, kita harus dapat memilih pejan-tan ayam hutan yang benar-benar unggul dan ayam kampung betina yang baik.

Memilih ayam hutan pejantan
Pejantan yang dipergunakan untuk mencetak ayam bekisar adalah ayam hutan. Nenek moyang ayam hutan berasal dari India Tengah, India Selatan, Himalaya, Assam, Myanmar dan Srilangka, kemudian me-nyebar ke arah selatan seperti Pulau Sumatera, Jawa, Madura dan Bali. Ayam hutan tersebut terdiri dari 4″species dan tergolong Genus Gallus, yang berarti ayam jantan. Keempat species tersebut adalah:
– Gallus gallus atau Gallus bankiva (ayam hutan merah)
– Gallus lafayetti (ayam hutan Srilangka)
– Gallus sonneratii (ayam hutan abu-abu)
– Gallus varius (ayam hutan hijau)

Dapatkan info menarik lainnya tentang: Tips Pemeliharaan Ayam Bekisar

Penyebaran ayam hutan ini adalah sebagai berikut:
– Ayam hutan merah terdapat di: • India Timur • Myanmar (Burma) • Thailand • Sumatera
– Ayam hutan Srilangka di Srilangka (Ceylon)
– Ayam hutan abu-abu terdapat di sebelah barat dan selatan India.
– Ayam hutan hijau terdapat di Jawa dan Madura. Di antara jenis-jenis ayam hutan yang paling digemari oleh masya-rakat Kangean khususnya dan para penangkar ayam bekisar umumnya adalah ayam hutan jantan hijau (Gallus varius) atau di Madura dikenal dengan sebutan “Ayam Tratah”. Ayam hutan hijau (Gallus varius) me-miliki ciri-ciri sebagai berikut:

  • Jenggernya halus (tidak bergerigi)
  • Pialnya hanya satu (single)
  • Memiliki sepasang bulu ekor yang panjang
  • Bulu leher bulat dan pendek, dan wamanya hijau mengkilat seperti sisik.

Adapun yang perlu diperhatikan dalam memilih bibit yang baik adalah sebagai berikut:
– Jenis : Ayam hutan hijau (Gallus varius) yang telah jinak.
– Umur : Dewasa (±1-3 tahun), pemberani dan siap kawin.
– Perawakan:
• Postur tubuh bagus, sehat dan tidak cacat.
• Bulu hijau mengkilat.
• Kepala kecil dan pendek.
• Mata bulat dan bersinar.
• Jengger tebal, lebar dan tegak, tidak berwilah dan berwarna merah.
• Pial lebar, lembut dan merah.
• Kokoknya keras, bersih dan melengking panjang.

Dalam rangka penangkaran ayam bekisar, maupun dalam rangka pelestarian ayam hutan, banyak hambatan yang harus kita hadapi. Masalah yang sering kita hadapi adalah kegagalan dalam mengawinkan ayam hutan jantan dengan ayam kampung betina, karena sifat ayam 1 lutan yang sangat liar, sukar dijinakkan dan mudah stres bahkan mudah mati. Pada umumnya kematian ayam hutan tersebut disebabkan oleh:

  • Seringnya kelabakan di dalam kandang hingga mengakibatkan luka-luka di kepala dan terjadi inf eksi atau dipatuk oleh teman-nya yang lain hingga mati.
  • Stres berat sehingga tidak mau makan dan akhirnya mati.
  • Suatu penyakit sejak dari hutan, kemudian ditambah stres hingga mati. Ayam Hutan Hijau (Gallus varius) jantan Berdasarkan pengamatan penulis, ayam hutan yang masih liar pada umumnya menunjukkan tanda-tanda sebagai berikut:
  • Ayam tersebut sering berbunyi “Kek-Kek-Kek” dengan keras.
  • Di dalam kandang selalu gelisah dan bila didekati akan kela-bakan di dalam kandang.
  • Jengger roboh/tidak tegak dan wamanya pucat.
  • Pial mengkerut dan pucat.
  • Tembolok kosong karena tidak mau makan dan sering berak.
  • Ekor ditekuk’ke bawah mendekati dasar kandang atau badan-nya membungkuk. Dengan berbagai masalah di atas, sulit bagi kita untuk dapat mengembangkan ayam bekisar atau ayam hutan. Oleh karena itu ayam hutan tersebut harus dijinakkan terlebih dahulu, agar dapat dikawinkan dengan ayam kampung betina atau ayam hutan betina.

Cara menjinakkan ayam hutan pejantan
Menjinakkan ayam hutan jantan perlu waktu cukup lama. Ayam hutan yang bam ditangkap pada umumnya masih sangat liar dan penakut serta suka kelabakan di dalam kandang. Untuk menghindari luka-luka di kepala atau bagian tubuh lainnya, maka kandang harus kita buat dari anyaman daun kelapa yang diperkuat dengan jepitan bambu, garis tengahnya ± 75 cm dan tinggi ± 100 cm. Atau dapat juga dengan merentangkan kain atau karung goni bekas di bagian atas dalam kandang agar saat kelabakan tidak mengenai kurungan.

Kandang ditutup dengan kain, kemudian secara bertahap dibuka sedikit demi sedikit dimulai dari atas ke bawah. Dan sering dikerek seperti burung perkutut. Kandang ditempatkan pada tempat yang sering dilewati orang, agar terbiasa dengan keadaan yang ramai. bis. Dan pemberian makan dilakukan setelah ayam benar-benar lapar. Kalau bisa diusahakan pemberian makan di telapak tangan.

Ayam harus dimandikan dua minggu sekali terutama pada musim kemarau dengan mempergunakan semprotan. Jumlah ayam dalam satu kandang, dalam proses penjinakan ini diusahakan jangan lebih dari satu ekor, karena ayam hutan yang masih liar mudah menyerang ayam lainnya.

Pada prinsipnya proses penjinakan ayam hutan, baik yang jantan maupun yang betina, memerlukan kesabaran dan ketelatenan, terutama dalam memberikan makanan dan minuman.
Hasil dari penetasan:
– Telur yang diperoleh dari hutan atau hasil dari pengembangan sendiri dapat ditetaskan dengan mesin tetas atau dieramkan pada ayam yang sedang mengerami.
– Setelah telur menetas, anak ayam ini kita pisahkan antara yang jantan dengan yang betina. Karena anak ayam hutan yang baru menetas dapat lari dan hilang, maka penetasan atau pengeraman telur tersebut harus selalu dalam kurungan yang tertutup.

Untuk dapat dijadikan sebagai patokan dasar dalam mengidentifikasi anak ayam hutan yang masih berumur 2-7 hari (berdasarkan pengalaman) adalah sebagai berikut:
– Yang jantan jenggernya agak membelok ke kiri dan yang betina jenggernya agak mengarah ke kanan,
– Yang jantan ekornya hitam dan tumbuhnya lebih lama, atau bulu ekor yang jantan lebih pendek daripada yang betina pada umur yang sama.
– Yang betina bulu ekornya berwarna lurik-lurik dan lebih panjang daripada yang jantan.

Cara memelihara ayam hutan kutuk sama dengan cara memelihara ayam kampung biasa, hanya saja anak ayam hutan ini harus selalu di dalam kandang yang diperlengkapi dengan lampu penghangat (dop 25 watt/lampu minyak tanah) sampai berumur ± 2 bulan, dan diusahakan tidak kena udara/angin secara langsung. Penjinakan ayam hutan yang dimulai dari kutuk adalah yang terbaik, karena berdasarkan pengalaman penulis, persentase keberhasilannya cukup tinggi.

Adapun tanda-tanda ayam hutan yang telah jinak adalah sebagai berikut:
• Jengger tegak dan berwarna segar.
• Pial lebar (tidak mengkerut) dengan warna merah kombinasi biru.
• Nafsu makan baik.
• Badan tegak dan ekornya tidak ditekuk.
• Bila didekati tidak takut dan sering berbunyi “Cek-Ki-Krek” ber-ulang-ulang sambil ceker-ceker bahkan berkokok. Inilah yang men-jadi tanda-tanda utama dari ayam hutan yang siap kawin, baik dengan ayam hutan betina maupun dengan ayam kampung betina.

Untuk cara menetaskan telur Ayam Bekisar juga sama dengan ayam lainnya yaitu bisa dilakukan dengan cara langsung mamupun dengan alat bantuan mesin seperti mesin tetas telur full otomatis maupun manual.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *