Kesuraman ekonomis dan demografis dari negara-negara miskin mempunyai keunikan sejarah

Jauh dari menaklukan wilayah-wilayah baru, banyak dari negara itu yang justru dijajah; dan jauh dari kemungkinan untuk menyambut para imigran guna memperkuat angkatan kerja mereka, mereka justru harus bergulat dengan tingkat pertumbuhan penduduk yang lebih tinggi daripada yang pernah dicapai oleh Eropa dan Amerika Utara. Tambahan pula, jelas bahwa perkembangan yang kini sedang berlangsung di banyak negara yang berpendapatan rendah tidak akan berujung pada kemewahan kelas menengah yang dirasakan secara merata seperti yang dialami oleh negara-negara maju dewasa ini. Arah gejala mutakhir mengungkapkan bahwa beberapajenis “pembangunan” bahkan memperparah kepincangan ekonomis, dan secara besar-besaran menggiring orang banyak ke jurang kemiskinan yang tak terduga dalamnya. Pertumbuhan ekonomi yang tidak diiringi dengan reformasi sosial bukan hanya akan melampaui sejumlah golongan masyarakat; ia bahkan bisa menginjak-injak golongan-golongan itu.

Sejarah pembangunan Brazilia belum lama berselang memberikan suatu contoh yang sama sekali tidak terpisahkan. Pengaruh negatif dari ledakan ekspor kedele Brazilia terhadap ,keadan nutrisi, yang telah melonjakkan harga kacang-kacangan yang selama itu menunjang kebutuhan penduduk miskin negara itu, termasuk dalam pola yang lebih luas dari kesenjangan pendapatan yang semakin meluas. Antara tahun 1960 dengan 1970, ke 3,5 persen penduduk Brazilia yang paling kaya memperbesar bagiannya dalam pendapatan nasional dari seperempat menjadi sepertiga. Bersamaan dengan itu, bagian pendapatan dari 43 persen golongan lainnya menurun dari 11 persen menjadi 8 persen dari jumlah keseluruhanl3 Akibat-akibat yang mungkin timbul dari pola perkembangan seperti itu terhadap cara mengobati kencing manis alami kesehatan ditunjukkan oleh data-data mortalitas bayi dari Sao Paulo yang merupakan pusat industri modern Brazilia yang dikelilingi dengan gubuk-gubuk.

MORTALITAS

Menyimpang dari arah gejala dunia dan pengalaman kota ini sendiri dalam dasawarsa sebelumnya, tingkat mortalitas bayi di Sao Paulo meningkat dari enampuluh kematian per seribu kelahiran yang selamat di tahun 1961 menjadi delapanpuluh-sembilan kematian per seribu di tahun 1970. Perpindahan kaum tani yang malang ke dalam kota jelas melonjakkan angka-angka mortalitas di daerah perkotaan. Tapi Dr.Walter Leser dari Universitas Sao Paulo berpendapat bahwa tingkat migrasi boleh dikata sama dengan yang terjadi di tahun 1950-an dan enampuluhan, sehingga migrasi saja barangkali tidak bisa memperjelas pembalikkan keadaan sehubungan dengan kesehatan ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *